Info
  • NEW NORMAL, PELAYANAN KEPEGAWAIAN DISESUAIKAN PROTOKOL KESEHATAN
  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI BKPPD KABUPATEN CILACAP
  • Mohon maaf, untuk sementara BKPPD Kab. Cilacap hanya menerima layanan / konsultasi kepegawaian secara online
  • Persiapan Pemutakhiran Data Mandiri SI ASN , Ayo download Mobile Apps MySAPK-BKN dan lakukan Aktivasi

WASPADA CYBER CRIME, SEGERA AMANKAN DATA PRIBADI ANDA!

22 Maret 2021  |  09:00  |  HENDI FATHURAHMAN  |  Artikel

Semenjak Pandemi Covid-19 berjalan satu tahun belakangan ini telah cukup merubah gaya hidup masyarakat indonesia yang tadinya aktivitas sehari-hari dilakukan secara langsung sekarang mulai beralih ke platform digital, sebagai contoh mengenai proses belanja kebutuhan sehari-hari.

Rata-rata orang mulai pindah ke delivery order atau belanja online karena menyesuaikan anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan salah satunya yaitu membatasi mobilitas aktifitas harian serta menjauhi kerumunan. Langkah tersebut memang sangat efektik untuk menekan laju pertumbuhan kasus terkonfirmasi Covid-19. Namun, jangan lengah karena hal tersebut bisa juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan untuk melakukan kejahatan cyber.

 

Seperti apa potensi kejahatan cyber yang timbul karena hal tersebut? Salah satu nya adalah pencurian data-data pribadi pengguna aplikasi karena dengan data tersebut bisa menjadi modal hacker untuk melakukan penipuan, carding, dll.


Kebocoran data menurut sektor, Juni 2020

(Sumber : Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia)


Berdasarkan data Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, pengaduan pada mengenai kebocoran data pada Juni 2020 paling banyak dialami oleh industri belanja online (e-commerce) yakni 54 kasus. Sejak Januari hingga Juni, total kasus mencapai 277 kasus. Selain itu, industri telekomunikasi juga mengalami kebocoran data yakni 31 kasus.


Sungguh miris memang jika melihat statistik kebocoran data tersebut. Yang tadinya langkah tersebut digunakan untuk membatasi mobilitas malah menjadi boomerang bagi para pengguna aplikasi. Namun jangan berkecil hati, dibalik kesusahan pasti ada jalan. Berikut ini solusi untuk menghindari kejahatan cyber :

1. Berikan data hanya kepada pihak yang dapat dipercaya

Periksa kembali apakah data yang sudah tercatat di aplikasi fintech, e-commerce, maupun media sosial merupakan data yang sekiranya dapat membahayakan diri apabila suatu saat terjadi kebocoran data. Karena kebanyakan orang lalai tidak berhati-hati terhadap data yang akan dimasukan dalam aplikasi tersebut, jadi pastikan data yang akan dimasukan sesuai dengan konteks yang dibutuhkan.

2. Lakukan cek berulang saat akan bertransaksi
Biasakan saat akan bertransaksi untuk mengecek data pribadi yang inputkan secara berulang, dengan begitu akan meminimalisir kesalahan penginputan serta terhindar dari kejahatan cyber

3. Jangan mengabaikan notifikasi perizinan aplikasi
Rata-rata orang sehabis install sebuah aplikasi smartphone mengabaikan tampilan text user agreement yang muncul tanpa membaca terlebih dahulu. Padahal jika dicermati text tersebut berisi permintaan izin akses dari developer aplikasi kepada kita selaku pengguna. Jadi, sebisa mungkin hindari aplikasi yang meminta izin untuk mengakses data pribadi kita yang ada di smartphone  seperti contoh email, kontak, foto pengguna, dll.

4. Ganti password secara berkala
Solusi terakhir dan yang paling utama adalah lakukan pergantian secara berkala. Saat pembuatan password biasakan untuk mengkombinasikan antara huruf besar, nomor dan simbol. Tujuannya agar password selalu terupdate dan meningkatkan kekuatanya sehingga menyulitkan Hacker saat akan meretas akun kita.


Daftar Pustaka :
  • Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
  • https://aptika.kominfo.go.id/
  • https://lokadata.id/
 
Share: