Info
  • BKPPD Kab. Cilacap mendapat Kunjungan Bencmarking Diklatpim Tk. III Pusdiklat Kemendagri Yogyakarta
  • 10 dari 21 Peserta UKPPI Tk. III Pemkab Cilacap tidak lulus Ujian
  • Rabu, 24 Mei 2017 sebanyak 259 Bidan Program PTT Kementerian Kesehatan RI di Lingkungan Pemkab Cilacap menerima SK. CPNS
  • 111 Kepala Sekolah Dasar di jajaran Pemkab Cilacap dialihtugaskan
  • Selamat datang di website resmi BKPPD Kabupaten Cilacap
  • Cilacap Kerja Nyata, Sukseskan Bangga Mbangun Desa
  • Usulan dan berkas persyaratan KP 1 Oktober 2017 dari OPD sudah dapat kami terima di BKPPD sd tgl. 7 Juni 2017 untuk PNS Struktural & JFU, dan tgl. 10 Juli 2017 untuk PNS JFT.

Barometer Akhlak Mulia

05 Juni 2017  |  15:00  |  NOVIYANTO HADI SUGITO  |  Artikel

Banyak orang yang keliru dalam menilai baik buruknya orang lain. Keramahan dan suka traktir sering dikategorikan pertanda kebaikan budi seseorang.
Pola penilaian ini tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang jeli karena masih menyisakan titik kelemahan. Sebab sangat mungkin seseorang itu menerapkan dua akhlak yang berbeda pada dua kesempatan yang berbeda.

Barometer kemuliaan akhlak adalah Akhlak mulia kepada keluarga, terutama terhadap istri dan anak-anak.
Mengapa demikian? Ada 2 hikmah dibalik peletakan barometer tersebut:
  1. Sebagian besar waktu yang dimiliki seseorang dihabiskan di dalam rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Andaikata seseorang itu bisa bersandiwara (berpura-pura) dengan menampilkan akhlak mulia ditempat kerjanya yang hanya berlangsung beberapa jam saja belum tentu ia sanggup bertahan untuk terus melakukannya di rumahnya sendiri. Karena berpura-pura baik di rumah lebih sulit dipertahankan lantaran keberadaannya di tengah keluarga lebih lama ketimbang di kantor atau saat berkenalan dengan seseorang. Sehingga saat dia di rumah, tampaklah karakter yang asli. Ketika berada di kantor atau saat bertemu kenalan, seorang lelaki bisa menutupi sifat aslinya yang buruk dengan muka yang manis, tutur kata yang lembut dan suara yang halus. Namun, jika itu bukanlah watak aslinya, dia akan sangat tersiksa dengan 'peran' palsunya itu jika harus dipertahankan sepanjang harinya.
    Kebalikannya, seseorang yang memang pembawaanya di rumahnya berakhlak mulia, Insya Allah otomatis ia akan mempraktekannya dimanapun ia berada.
     
  2. Di tempat kerja, ia hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang notabenenya adalah lemah. Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di posisi yang kuat, karena menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi tersebut tentunya sedikit banyak berimbas pula pada sikapnya di dua dunia yang berbeda itu. Ketika di kantor, ia menjaga 'rapor' nya di mata atasan. Untuk itu, ia berusaha melakukan apapun demi meraih tujuannya itu. Meskipun untuk meralisasikannya, ia harus memoles akhlak buruknya untuk sementara waktu. Hal itu tidaklah masalah. Yang penting karirnya terus menanjak dan gajinyapun ikut menanjak.
Adapun di rumah, di saat posisinya kuat, dia akan melakukan apapun seenaknya sendiri, tanpa merasa khawatir gaji dipotong atau dipecat.
Demikian itulah kondisi orang yang berakhlak mulia karena kepentingan duniawi.
Akhlak mulia yang sesungguhnya adalah orang yang selalu berbuat baik dalam situasi dan kondisi apapun serta dimanapun ia berada.

Sumber:
Majalah As-Sunnah
Edisi Khusus No. 04-05/Th.XIV
Share: